22 April 2010

MENYAMBUNG KATA


Agak sungkan juga jari ini untuk menari diatas keyboard. Melantunkan kata demi kata yang sebenanya sudah bersenandung lama di alam pikiran. Setelah sekian lama "menghilang", dan "rumah" ini sepi bagai tak berpenghuni. Ya, sungkan menyapa jiwa karena tanggung jawab tiada terlaksana sempurna. Tanggung jawab untuk senantiasa mengisi "rumah" ini dengan perabotannya. Perabotan sederhana berupa barisan kalimat yang bisa terbaca.

Tetapi hari ini, tekad itu mulai bersemi lagi dengan meminggirkan segala sungkan yang ada . Perabotan sederhana itu akan mulai diisi lagi. Kalimat demi kalimat yang menjadi baris paragraf akan hadir lagi. Kandungan alam fikiran akan kembali menjelaskan dirinya lewat setumpuk huruf. di "rumah" ini. Ya, semoga sambungan kata ini menjadi titik awal ditahun ini untuk berkarya dan berkarya lagi. Insya Allah.

20 November 2009

AKU MELIHATMU


Dalam nyala dian ingatan itu,…padanya aku melihatmu

jelma dalam bayangan senja,….melepas sempurna panggilan pesonamu

pelan aku dirayu cemburu

kerna di timur ini anugerah langit tercurah

mengasihi bumi dengan hujan yang basah


Dalam nyala dian ingatan itu,…padanya aku melihatmu

kerna remang ini melukis wajah,…tarikan indah sebaris rasa

sementara tercucuk aku,

dalam sunyi mengais kepingan rindu

yang menggetar,…seakan menyampaikan kembali dimataku

senyum merdu masa lalu


Dan semakin aku melihatmu,…geloraku menghujam

dari balik gelagar guntur yang menyapu langit beriring hujan

aku tenggelam,…terdiam panjang dalam cumbuan tasbihku…


(Karanganyar, 28 April 2009)


17 Juli 2009

SYAIR PELATARAN BISING


Kami hadir hanya untuk menyanyi tuan
di pelataran bising inilah rumah kami

dendangkan kata-kata yang kami punya

karna adalah kami ini

kawan debu jalanan,...panas terik dinginnya hujan


Bila kau tanya, nyanyian kami hanya terbeli murah tuan

tak perlu sampai puluhan ribu

cukuplah senyum kericik-kericik logam itu

tangan kecil berpasrah padamu


T
olonglah kami tuan

belilah sedikit syair kehidupan kami ini

tak perlu sampai puluhan ribu

tak perlu berlembar-lembar biru

cukup senyuman rindu

lembut sapa seorang ibu

berilah itu untuk kami

di perjalanan bising ini memintamu


Kami bukan preman, bukan pula musuh yang membahayakan

Cuma lengkung nasib membawa manusia ini kepinggir

dalam diri garis takdir ini mengukir

menindih tak terlawankan


Tolonglah kami tuan,

belilah sedikit syair sumbang ini

palingkan tulus wajahmu

pada kawannya debu jalanan,...panas terik dinginnya hujan

didepanmu dengan sepotong plastik, amplop, topi usang


Terima kasih tuan, kau kerling wajah ini…

( Solo, 30/04/09)

16 Juli 2009

KEMBALI KELANGIT?


lupakah pada langit?
geram ia melihat anak adam

tak lagi menatapkan mata kepadanya


lupakah pada langit?

menganggap langit tak lagi tinggi

sempurna hanyalah kepalanya


lupakah pada langit?

mata, telinga, mulut, dan hatinya kabur

ia telah lupa, betapa sejengkalnya ia


akankah hujan, air, dan tanah yang marah menjadi jalan?

membawa matanya kembali ke langit

memarkir hatinya kebumi

betapa ia tak lebih tinggi dari rambut diatas kepalanya

betapa ia hanya sebutir pasir

yang pasti hanyut ditelan air


atau ia akan mati?

sebagai langit yang tak pernah ia miliki...


(Bumi Karanganyar, 09/06/09)

SERATUS TAHUN LAGI




Kau lihat,
tebarannya mencari
memaksa tangan
rengkuh memeluk sunyi
dalam senyap meniduri


Jantung keluhkan asa
harap membelai hati
jangan jatuh, boleh runtuh
kobaran nyala membara
bakari sumsum bercinta mesra...


Sungguh!
tak usah tangismu
bulan tak akan pulang
pergi merantau mengejar damai
seratus tahun lagi!
senyuman itu bertandang
memandang matamu yang biru
seolah batu yang beku...


(JUMAPOLO-KARANGANYAR)