30 Juni 2009

MENUNDUKKAN DILEMA SBY-JK : DI KAKI MANA AKU BERDIRI ?

(Tulisan ini tidak bertendensi untuk menggoyahkan, tetapi lebih kepada mendudukan diri dalam perjuangan menundukkan sebuah dilema yang mau tidak mau harus diakui keberadaannya dalam komunitas ini)

Diskusi untuk menentukan dimana tangan kita harus ditempatkan dalam Pilpres ini bagi sebagian besar orang dalam komunitas kita mungkin sudah selesai. Pilihan sudah dijatuhkan, tinggal bagaimana dan apa upaya kita untuk memenangkan pilihan itu. Tangan kita telah menunjuk, berjabat erat dan diletakkan dalam ikatan politik koalisi SBY-Boediono. Dalam konteks ini berarti daya upaya kita sekarang adalah bagaimana mengamankan dan menggolkan jago yang kita usung. Apalagi prosesi pencontrengan tinggal menunggu hitungan jari.

Namun bagi sebagian kecil orang (wallahu a’lam berapa jumlah pastinya, angka kecil ini asumsi saya pribadi), termasuk saya, hal itu belumlah selesai atau setidak-tidaknya sedang dalam proses penyelesaian. Bagi saya pribadi pilihan kepada SBY pada awalnya tidak ada masalah, saya sangat apreciate kepada prestasi dan kharisma beliau. Waktu itu dukungan saya penuh kepada beliau sebagaimana bisa kita baca pada artikel-artikel saya sebelum ini (lengkapnya bisa dibaca : Memahami Antagonisme PKS dan Golkar, Menakar Kesungguhan Sikap Partai Golkar, dan Membaca Polarisasi Koalisi Parpol Menuju Kontestasi Pilpres). Tetapi masalah kemudian muncul, hal ini dimulai ketika ada polemik penentuan siapa cawapres yang akan digandeng SBY. Nama yang santer keluar dan menjadi kandidat terkuat kemudian teramat mengejutkan saya : Boediono. Sampai akhirnya muncul titik kepastian, SBY mengesahkan Boediono sebagai cawapresnya. Ini benar-benar mengecewakan saya (mungkin juga sebagian kecil orang sebagaimana saya sebut diatas). Apalagi diawal sudah begitu masif dihembuskan gerakan penolakan terhadap neoliberalisme dan konotasi neoliberalisme ini tidak lain adalah salah satunya Boediono. Dan saya adalah bagian dalam gerakan itu.

Bagi saya pilihan bersama Boediono ini begitu menggoncang, betapa saya harus menjilat ludah saya sendiri. Ibarat berteman dan menjadi pengawal orang yang saya identifikasi sebagai musuh dan hendak saya perangi. Mencintai dan menjadikan isteri orang yang pernah saya tolak mentah-mentah dan saya anggap setan. Jujur untuk itu saya berkelahi dengan hati nurani selama berpekan-pekan ini. Apalagi setelah melihat iklan-iklan calon lain dan beberapa fakta yang terungkap (lebih mudah search saja di internet atau ikuti pemberitaan di media terutama TV), juga sebuah iklan SBY-Boediono yang menurut saya sarat pembohongan (iklan SBY-Boediono dengan guru, petani, dll). Simpati saya kepada SBY perlahan-lahan pudar dan beralih kepada JK-Wiranto. Lengkap sudah dilema ini.

Tetapi saya juga sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa, terlepas dari back ground independensi gerakan mahasiswa, saya adalah kader sebuah partai yang telah men-declare-kan diri dalam barisan koalisi SBY-Boediono. Konskuensi dari keberadaan diri saya sebagai kader partai ini adalah ketaatan kepada kebijakan partai. Mengingat bahwa dalam partai ini sudah ada mekanisme pengambilan keputusan yang legitimate dan konstitusional yakni lewat majelis syuro, maka keputusan yang kemudian menjadi garis kebijakan partai harus di dukung, di ikuti dan dipatuhi oleh para kadernya kecuali ia ingin menjadi pembangkang. Apalagi pengajaran ini sudah sampai dan sudah sangat dipahami : ”keputusan dari hasil syuro lebih baik dari pada keputusan pribadi yang paling baik sekalipun”, juga ”tidak ada pendapat pribadi setelah syuro memutuskan”.

Kesadaran ini yang membawa keputusan pada dilema saya. Karena pilihan harus dijatuhkan maka saya memilih untuk menjadi kader yang taat, mengikuti garis kebijakan partai untuk bersatu didalam barisan SBY-Boediono. Meski tidak dapat saya pungkiri simpati saya kepada JK-Wiranto sangat besar bahkan mengalahkan simpati saya kepada SBY-Boediono yang sekarang sangat minimalis. Tentunya kita sepakat bahwa keberhasilan dan prestasi SBY dan JK itu adalah suatu hal yang debatable dan berbagai informasi dapat kita konsumsi untuk mengkonfirmasi, mengklarifikasi sekaligus mengkonfrontirnya.

Akhirnya karena simpati ini adalah pekerjaan hati, ijinkan saya meminta pengertian untuk tetap menyimpannya. Dengan kata lain : meski tangan dan kaki saya untuk SBY-Boediono tapi biarkanlah simpati saya bersama JK-Wiranto sampai Allah mengubahnya lagi . Wallahu a’lam bishowab.

(JUMAPOLO-KARANGANYAR)

05 Juni 2009

REMBULAN TANJUNG PRIOK


Apa kabarmu rembulan tanjung priok?
masihkah kau dilangit itu

merekahkan senyumanmu seperti malam-malam dulu

saat jendela ku buka dan kupandangi ayu wajahmu

dan sedikit kau tersipu,

bersembunyi diri dalam ketundukanmu


Apa kabarmu rembulan tanjung priok?

masihkan purnamamu seindah bayanganku

yang setiap kali muncul menerpa mataku

sempurna seperti nawang wulan

bidadari suci yang turun kahyangan

membumi diri kepada sang jelata tanpa penyesalan


Apa kabarmu rembulan tanjung priok?

rindu hatiku bertanya saat purnamamu tak lagi menyapa

Meski jendela ini ku biarkan menunggumu selamanya


Apa kabarmu rembulan tanjung priok?

kini kesunyian malam terlewatkan tanpa cahayamu

dan sang jelata tak lagi menemui nawang wulan

Ia telah di tinggalkan ke awang-awang


Apa kau tidak menanyakan kabarku rembulan tanjung priok?

membalas ratapan sang jelata kepada nawang wulan

agar kau kembali hadir di bumi ini memberiku kesejukan...

(JUMAPOLO-KARANGANYAR)

07 Mei 2009

SURAT UNTUK CINTAKU


Sebenarnya surat ini ingin kukirimkan kepadamu, wahai engkau yang telah menawan hatiku. Surat ini ingin kuselipkan dalam satu kehidupanmu, namun aku hanya lelaki yang tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan seluruh percikan rasa yang menggelora dalam hatiku. Aku merasa, aku hanyalah dia yang engkau anggap tidak lebih, aku hanyalah dia yang belum tentu di hatimu.

Assalamu’alaikum wahai engkau yang telah menawan hatiku,


Tiada terasa puluhan purnama sudah aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan satupun perasaan kita : perasaanku atau perasaanmu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu mencoba tidak acuh padamu. Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku sewajarnya walau sulit untukku mencapainya. Bahkan seringkali aku tak bisa.


Tahukah engkau wahai yang telah menawan hatiku? Entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucintai. Namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci. Dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu. Jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah pertarungan batin yang membuatku semakin menggigil.


Berat hatiku memang, saat prasangkaku berbicara bahwa engkau mencintai dia dan tak ada aku dalam kamus cintamu. Sungguh berat, sakit terasa dan begitu amat perih. Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang paling berarti bagiku. Ketentramanmu adalah kebahagiaan yang mendekapkan kesejukan dihatiku, dan aku menerima bila aku harus pergi. Berlari membawa hatiku untuk sembunyi.


Wahai engkau yang telah menawan hatiku. Andai aku boleh berdoa kepada Tuhan, mungkin aku ingin meminta agar Dia membalikkan sang waktu. Agar aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu. Hingga tak ada tatapan pertama yang membuat hati ini terus mengingatmu.

Banyak lembaran buku yang telah kutelusuri, banyak kawan yang telah kumintai pendapat. Sebahagian mendorongku untuk mengakhiri segala prasangkaku tentangmu, tentang dia. Karena sebahagian prasangka adalah suatu kesalahan. Mereka memintaku untuk membuka tabir lisan ini, juga untuk menutup semua rasa prasangkamu terhadapku. Namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang mungkin terlalu awal, telah tertancap dihati ini dan membukanya nanti pada suatu waktu yang indah, yang telah ditentukan itu (andai itu bukan suatu mimpi).

Wahai engkau yang telah menawan hatiku. Mungkin aku bukanlah lelaki tangguh yang siap untuk segera “menikah” denganmu. Masih banyak sisi lain hidup ini yang harus kukelola dan kutata hingga semuanya mendukungku untuk meminang dirimu. Juga engkau wahai yang telah menawan hatiku, engkau yang menurut prasangkaku dengan halus menolak diriku dengan alasan belum saatnya memikirkan itu. Sungguh aku tidak ingin menanggung beban ini yang kelak akan berujung kepada kefatalan jika hati ini tak mampu kutata, juga aku tidak ingin “berpacaran” denganmu. Sungguh bukan itu yang kumau.


Wahai engkau yang telah menawan hatiku, mungkin saat ini hatiku milikmu. Namun tak akan kuberikan setitik pun saat-saat ini karena aku telah bertekad dalam diriku, bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan kepada BIDADARI-ku. Wahai engkau yang telah menawan hatiku, tolong bantu aku untuk meraih bidadari-ku bila dia bukan dirimu.


Wahai engkau yang telah menawan hatiku, tahukah engkau betapa saat-saat inilah yang paling kutakutkan dalam diriku. Jika saja Dia tidak menganugerahi aku dengan setitik rasa malu, tentu aku telah meminangmu bukan sebagai istriku namun sebagai kekasihku. Andai rasa malu itu tidak pernah ada, tentu aku tidak berusaha menjauhimu. Kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita atau harus mengorbankan iman dan malu-ku hanya demi hal yang tampak sepele yang demikian itu.


Aku yang tidak mengerti diriku...,


Ingin aku meminta kepadamu, sudikah engkau menungguku hingga aku siap dengan tegak meminangmu dan kau pun siap dengan pinanganku? Namun wahai engkau yang telah menawan hatiku, kadang aku berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat ini pun akan segera berlalu. Tetapi ada ketakutan dalam diriku bila aku melupakanmu, aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka yang lain.


Wahai engkau yang telah menawan hatiku, ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita. Mungkin nanti saat dimana kau telah menimang cucumu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang sedih ini. Atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebahagian dari iman, kita akan tersenyum bersama, betapa akhirnya kita berbuka dengan kebahagiaan setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang sekian lama.


Wahai engkau yang telah menawan hatiku, mintalah kepada Tuhan-mu, Tuhan-ku, dan Tuhan semua manusia, akhir yang terbaik untuk kisah kita. Memintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan selamanya, memintalah kepada-Nya agar menetapkan rasa malu ini abadi pada tempatnya.


Wahai engkau yang sekarang kucintai, semoga hal yang terjadi ini bukanlah sebuah Dosa. Amin.


Wassalam.


-dari Muhammad Baiquni, kutulis ulang dengan beberapa perubahan bersama pena hatiku-(JUMAPOLO-KARANGANYAR)

01 Mei 2009

MENILAI KESUNGGUHAN SIKAP PARTAI GOLKAR

Manuver Partai Golkar yang menarik diri dari pembicaraan koalisi dengan Partai Democrat mementahkan prediksi politik yang sudah tercetus. Manuver yang begitu mendadak sehingga membuat banyak kalangan “surprise”, termasuk saya. Apalagi sebelumnya Golkar sudah memberikan sinyal kuat penggabungan dirinya dengan koalisi Demokrat. Sehingga dengan sinyal yang kuat itu banyak pihak termasuk saya meyakini bahwa masuknya Golkar kedalam barisan koalisi Democrat hanyalah tinggal masalah waktu. Secara teknis hal ini tinggal menunggu deklarasi resmi dari Partai Golkar saja. Tetapi semua itu terpatahkan dengan pernyataan resmi dari DPP Golkar yang menyatakan menghentikan Pembicaraan dengan Demokrat karena Golkar menilai komunikasi politik mereka dengan PD menemui jalan buntu. Hal itu dipertegas dengan hasil Rapimnassus Golkar yang mendeklarasikan JK sebagai Capres dan memberikan mandat penuh kepadanya untuk menjalin komunikasi politik dengan partai lain diluar PD.

Manuver ini jelas membuat konstelasi politik berubah, dan membuat skenario bahwa hanya akan ada dua koalisi besar yang bertarung dalam kontestasi pilpres buyar. Dengan keberadaan Golkar sebagai partikel bebas maka keberjalanan peta politik yang sudah tersusun menjadi cair. Hal ini disebabkan Golkar bisa saja masuk kedalam koalisi PDIP ataupun membuat barisan koalisi sendiri. Apalagi ditambah barisan-barisan koalisi yang diperkirakan kuat akan terbentuk yakni barisan PD dan barisan PDIP sampai saat ini belum firm. Sehingga akan sangat mudah untuk berganti wajah dan tangan didalamnya jika ada dinamika yang mempengaruhinya. Meskipun kita lihat koalisi PD selangkah lebih maju dengan declare-nya PKB dan PKS sebagai bagian koalisi.

Bila kita cermati maka langkah Golkar sekarang lebih condong untuk bergabung dengan koalisi PDIP, Gerindra dan Hanura. Pertemuan dan pembicaraan politik antara JK dengan Mega, JK dengan Wiranto maupun JK dengan Prabowo intensif dilakukan dalam waktu yang sangat cepat. Bahkan akhir-akhir ini mereka sepakat untuk membentuk koalisi besar yang akan terdiri dari PDIP, Golkar, Gerindra, Hanura, PPP dan PAN. Dan untuk merealisasikan hal tersebut Golkar dan PDIP sudah membentuk tim gabungan yang dinamakan tim 6. Tim 6 ini bertugas merancang draf materi-materi yang nanti akan disepakati dalam koalisi besar ini sekaligus merencanakan pertemuan para ketua umum untuk proses finalisasi kesepakatan. Pertemuan demi pertemuan pun lebih intensif dilakukan dalam rangka mencapai kesepakatan. Sebuah langkah politik progresif yang menurut saya menggentarkan secara politis bagi koalisi Demokrat.

Jelas dari langkah ini kita melihat bahwa Golkar memang serius memainkan peran diplomasi politiknya untuk maju dalam kontestasi Pilpres mendatang. Karena sebagai partai besar dan sepuh sekaligus partai pemenang pileg nomor 2, Golkar merupakan kekuatan penting dalam meraih kemenangan kontestasi pilpres nanti sehingga partai lain harus mendekati dan merangkulnya. Posisi ini disadari sepenuhnya oleh Golkar sehingga permainan manuver dan diplomasi politiknya begitu menggigit dan confidential. Seakan ingin menunjukan kepada siapapun bahwa dirinya masih “harimau yang bertaring tajam” sehingga tidak boleh ada yang menganggapnya enteng atau bahkan mempermainkan.

Lepas dari itu semua, kalau di tinjau sebab musabab mengapa secara emosional Golkar sampai melakukan manuver mendadak “keluar” dari pembicaraan politik dengan Demokrat maka akan kita temukan beberapa hal. Diantaranya adalah pertama sikap angkuh Partai Democrat yang merasa bargaining position-nya berada diatas angin karena memenangi Pileg. Hal ini membuat seakan-akan Demokrat tidak membutuhkan partai lain, partai lainlah yang membutuhkan Demokrat sehingga membuat alot dan lamban proses negoisasi politik yang dilakukan dengannya. Salah satunya adalah negoisasi yang lamban tentang berapa jumlah cawapres yang harus diajukan ke Demokrat oleh Golkar. Kedua adanya penolakah halus SBY kepada JK sebagai Cawapres. Hal ini dibaca setelah SBY mengumumkan lima kriteria cawapres yang akan mendampingi dirinya nanti. Lima criteria ini dinilai golkar sebagai bentuk penolakan halus SBY kepada JK. Padahal JK adalah ketua umum partai Golkar sehingga dengan menolak JK, SBY sama saja menolak partai Golkar. Ketiga, menurut saya ini yang paling determinan, adalah pertaruhan marwah atau harga diri Golkar sebagai partai sepuh, besar, berpengalaman dan pemenang pileg nomor dua. Sebagai partai sepuh, besar, berpengalaman dan pemenang pileg nomor dua, tentu saja Golkar akan mendapatkan “malu” jika hanya puas menjadi cawapres partai lain dan tidak mengajukan capres sendiri, padahal PDIP dan Gerindra yang perolehan suaranya di bawah Golkar berani mengajukan capres sendiri. Apalagi jauh sebelum pileg Golkar sudah men-declare JK sebagai capres dengan meluncurkan slogan “ lebih cepat lebih baik”.

Tiga alasan itulah yang terakumulasi dalam alam pikiran Partai Golkar sehingga dengan confident mereka menarik diri dari proses pembicaraan politik dengan Demokrat. Dan secara attractive mendeclare JK sebagai capres dalam rapimnasus dan melakukan manuver dengan PDIP untuk membentuk koalisi besar bersama Gerindra, Hanura, PPP dan PAN. Disamping juga terbuka alternatif untuk membentuk barisan koalisi sendiri dengan Hanura dan beberapa partai gurem seandainya koalisi besar gagal diwujudkan. Terlepas dari adanya surat 25 DPD I yang menyarankan agar kembali bersama koalisi Demokrat.

Memang dari manuver tersebut terkesan kuatnya emosi Partai Golkar untuk men-capreskan JK demi menjaga marwah partai. Justru dari sinilah menurut saya karena terlalu memperturutkan emosinya Golkar kurang memperhitungkan seberapa jauh peluang kemenangannya. Padahal dengan sikap ini maka akan berpotensi mengulang kekalahan mereka serta dengan demikian memberi tambahan kesulitan dalam negoisasi untuk masuk pemerintahan paska kekalahan nanti. Kecuali Golkar siap menjadi partai oposisi, sesuatu yang anusual bagi Golkar karena melawan tradisi Golkar selama ini dan menurut saya hal ini sangat kecil kemungkinannya berani diambil.

Terakhir saya tetap berkeyakinan, dengan melihat berbagai factor termasuk tingkat elektabilitas calon, apresiasi rakyat, dan kekuatan politik figure dan soliditas partai pengusung maka majunya Golkar dengan capres JK-nya dalam kontestasi pilpres mendatang tidak akan mempengaruhi secara signifikan peluang kemenangan koalisi Demokrat dengan SBY sebagai capresnya. Dalam konteks ini maka mau tidak mau koalisi yang lain termasuk Golkar harus mempersiapkan langkah atau jalan keluar dari kekalahannya atau yang sering kita sebut escape plan. Dan menurut saya escape plan yang paling rasional bagi Golkar adalah mendukung dan bergabung dalam koalisi pemerintahan pemenang pilpres sebagaimana pengalaman pemilu 2004 yang lalu.

(JEBRES-SOLO)


21 April 2009

(SEDIKIT) MEMAHAMI ANTAGONISME PKS DAN GOLKAR

Wacana koalisi parpol menjelang pilpres semakin mengerucut. Kubu Megawati dan kubu SBY sudah sama-sama menjajagi beberapa parpol yang dianggap sehaluan atau punya kecenderuangan bersatu dengan mereka dalam barisan koalisi. Memang seperti pernah saya tulis sebelumnya (untuk lebih detailnya mohon baca “Membaca Polarisasi Koalisi Parpol menuju kontestasi pilpres), beberapa dinamika yang terjadi memberikan indikasi kuat bahkan hampir dapat dipastikan bahwa koalisi yang akan terbentuk hanyalah dua buah yakni koalisi pimpinan SBY dan koalisi pimpinan Megawati. Rivalitas SBY dan Megawati yang sudah tampak sejak dahulu menjadi penegas sekaligus factor determinan bahwa dua kekuatan politik besar ini dengan kendaraan partai dan koalisi yang dibangunnya akan saling bersaing memperebutkan jabatan RI 1 dan RI 2. SBY dan Megawati menjadi center dua kekuatan politik besar yang akan saling mengalahkan. Ibarat pusaran medan magnet yang menarik benda-benda lain kedalamnya maka SBY dan Megawati menjadi pusatnya yang dengan kuat menyedot parpol lain yang mempunyai pandangan dan kepentingan politik yang relatif sama untuk datang kepadanya dan menyatakan diri menjadi anggota koalisi.

Perkiraan siapa saja yang akan bergabung dalam satu barisan koalisi juga sudah saya sampaikan pada tulisan sebelumnya dan bila kita lihat dengan kacamata matematika politik kalkulasi kekuatanya sangatlah tidak berimbang. Pertarungan kali ini hampir akan seperti Daud melawan Goliath. kekuatan koalisi Mega yang relatif kecil menantang kekuatan koalisi SBY yang hampir Raksasa. Dan hasilnya pun akan dapat dengan mudah diperkirakan yakni kemenangan koalisi SBY. Benarkah?

Tetapi pada tulisan kali ini saya tidak akan membahas lebih lanjut dinamika koalisi SBY dan koalisi Mega yang antagonistik itu. Karena hal itu menurut saya sudah selesai dan seperti kata saya sebelumnya hal itu “hampir dapat dipastikan”. Saya lebih tertarik untuk menyampaikan sedikit pandangan saya terkait dinamika yang terjadi di internal koalisi SBY, yakni terkait akan masuknya Partai Golkar dan “ancaman” PKS untuk menarik dukungan kepada SBY bila Golkar jadi masuk koalisi dengan Jusuf Kalla (JK) sebagai Cawapres yang diusung. Apalagi adanya dinamika itu menyebabkan memanasnya hubungan PKS dan Golkar. Kedua partai ini tampak saling tuding dan tentu saja perang apologi seperti yang kita lihat di media baik cetak atau elektronik. Dalam dinamika ini baik Golkar dan PKS sama-sama menunjukan antogonisme satu sama lain.sebuah antagonisme yang sebelumnya juga telah terjadi. Bagaimanakah elaborasinya?

Yang pasti antagonisme maupun protagonisme dalam politik adalah hal yang wajar dan pasti terjadi. Karena yang bertarung dan dipertaruhkan adalah kepentingan. Sebuah parpol diidentifikasi atau mengidentifikasi parpol lain sebagai lawan atau kawan itu berdasarkan kepentingannya. Ini adalah rumus yang baku mengingat ‘dalam politik tidak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi”, juga “ politic is the art of possibility”, tidak ada yang tidak mungkin dalam politik karena politik adalah seni dari kemungkinan. Semua ruang-ruang kemungkinan terbuka seluas-luasnya dan bisa menjadi kenyataan secara tak terduga dalam waktu yang singkat.

Kembali kepada antagonisme PKS dan Golkar menyikapi koalisi dengan SBY, maka ini juga dikembalikan kepada rumus baku diatas. Dengan melihat rumus itu maka kita dengan mudah melihat bahwa antagonisme ini terjadi akibat adanya conflict of interest diantara keduanya. Dengan adanya Conflict of interest ini, maka golkar dan PKS meskipun memiliki arah koalisi yang sama yakni kepada sby, sudah meng-create posisi yang uncomfort dan menempatkan barrier psikologis untuk dapat duduk bersama ataupun mengkomunikasikan kepentingannya dalam koalisi. Meskipun patut kita perhatikan sampai saat ini golkar belum memutuskan dengan pasti terkait koalisi dengan SBY ini. Lain halnya dengan PKS yang dari komunikasi politik yang telah dilakukan sudah dipastikan bergabung dengan barisan koalisi SBY.

Tetapi dari sinyalemen-sinyalemen kuat yang tertangkap, penggabungan Golkar dengan barisan koalisi SBY menurut saya hanyalah tinggal masalah waktu saja. Artinya dengan kesadaran politiknya pilihan paling realistis yang akan diambil Golkar adalah masuk dalam barisan koalisi SBY. Sehingga dengan begitu hal ini akan semakin memperkuat sentimen antogonistic antara PKS dan Golkar mengingat mereka sedang mempertaruhkan kepentingan besar masing-masing.
Masing-masing harus mengamankan kepentingannya agar goal dengan sekuat tenaga. Kepentingan apakah itu?

Paling tidak ada dua kepentingan pragmatis yang dapat kita baca. Pertama penempatan kursi Cawapres. Kedua bagian dari sharing dalam pemerintahan yakni berapa jumlah kursi menteri yang didapat dan bidang apa saja. Dua kepentingan ini sangat strategis nilainya mengingat banyaknya kewenangan dan fasilitas yang bisa didapat dan dimanfaatkan dari pos ini. Dan tentunya PKS dan Golkar sudah memperhitungkan ini semua sebelum mereka memutuskan bergabung dengan koalisi SBY, koalisi yang secara kalkulatif- realistis peluang kemenangannya paling besar.

S
ecara politis dari dua kepentingan itu dapat kita baca bahwa dengan bergabungnya Golkar kedalam barisan koalisi akan merubah posisi PKS dalam koalisi sekaligus potensial mengurangi jatah sharing dalam pemerintahan yang akan diterimanya. karena kursi cawapres dan beberapa pos menteri strategis seperti Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, atau Menteri ESDM, kemungkinan besar akan jatuh kepada Golkar mengingat perolehan suara golkar jauh lebih banyak dari PKS. Padahal PKS paling tidak menginginkan posisi Cawapres tersebut. Adanya kekhawatiran inilah yang menyebabkan elite PKS mengeluarkan statement akan mempertimbangkan kembali dukungan kepada SBY bila Golkar dengan JK-nya kembali masuk barisan koalisi. Dengan asumsi bila Golkar tidak masuk koalisi maka kursi Cawapres dan sebagian pos menteri strategis akan jatuh kepadanya. Sementara Golkar sendiri dengan perolehan suara nasional nomor dua tentu saja mempunyai self confident yang tinggi bahwa kursi cawapres dan beberapa pos menteri strategis akan diberikan kepadanya. Hal-hal inilah yang secara faktual menjadikan sentimen antagonisme antara kedua partai ini membesar dan menjadi tarikan yang tidak mudah bagi SBY dan Partai Demokrat.

Meskipun perlu kita cermati juga alasan elite PKS ketika mengeluarkan statetement tersebut, yakni terkait perbaikan sistem presidensial dalam hal ini adalah penempatan presiden sebagai single executive yang kewenangannya diatur secara eksplisit dalam UUD 1945. Yakni presiden sebagai pemimpin pemerintahan yang mempunyai kekuasaan dan kewenangan penuh dalam mengkoordinasi dan mengorganisasikan jalannya pemerintahan sesuai amanat UUD 1945, sedangkan wakil presiden dan menteri adalah pembantu presiden dalam menjalankan kekuasaan dan kewenangan ekskutifnya. Sehingga dengan demikian wakil presiden dan menteri harus tunduk kepada presiden. Hal inilah yang menurut elite PKS selama ini belum terlaksana dalam pemerintahan SBY-JK karena seringkali antara presiden dan wakil presiden terdapat tarik ulur kewenangan dan disharmonisasi dalam menjalankan pemerintahan karena adanya conflict of interest. Bahkan terkesan ada matahari kembar dalam pemerintahan sehingga pemerintahan kurang berjalan secara solid dan efektif. Meskipun dengan tegas golkar telah menampik hal ini.


Tentunya kita mengapresiasi tujuan baik yang disampaikan oleh PKS itu karena perbaikan sistem presidensial kita memang merupakan sebuah kebutuhan demi menciptakan pemerintahan yang solid dan efektif sehingga tujuan pembangunan untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat bisa tercapai. Terlepas dari itu tetap saja kita melihat aroma kepentingan politik yang mengemuka terkait antagonisme antara PKS dan Golkar ini. Karena pada dasarnya kepentingan fitrah dari partai politik adalah mendapatkan kekuasaan, terlepas apa yang akan diperbuatnya setelah mendapatkan kekuasaan itu.


Adalah lebih baik kiranya apabila antagonisme antara PKS dan Golkar ini dapat dikelola dengan komunikasi politik yang santun dan di jelaskan secara transparan dan obyektif kepada publik oleh masing-masing pihak. Sehingga hal ini tidak menjadi tambahan permasalahan yang membuat publik semakin antipati dengan dunia politik tetapi menjadi salah satu sarana edukasi politik kepada publik yang mampu memberi pencerdasan dan pencerahan politik bahwa politik itu tidak selalu berorientasi kepada kepentingan semata tetapi lebih kepada perbaikan rakyat, bangsa dan negara. Untuk lebih arifnya mari kita serahkan penuntasan masalah ini pada proses politik yang ada, biarlah SBY yang akan menentukan siapa dan dari partai apa yang akan dipinangnya sebagai Cawapres.

(JUMAPOLO-KARANGANYAR)