20 November 2009

AKU MELIHATMU


Dalam nyala dian ingatan itu,…padanya aku melihatmu

jelma dalam bayangan senja,….melepas sempurna panggilan pesonamu

pelan aku dirayu cemburu

kerna di timur ini anugerah langit tercurah

mengasihi bumi dengan hujan yang basah


Dalam nyala dian ingatan itu,…padanya aku melihatmu

kerna remang ini melukis wajah,…tarikan indah sebaris rasa

sementara tercucuk aku,

dalam sunyi mengais kepingan rindu

yang menggetar,…seakan menyampaikan kembali dimataku

senyum merdu masa lalu


Dan semakin aku melihatmu,…geloraku menghujam

dari balik gelagar guntur yang menyapu langit beriring hujan

aku tenggelam,…terdiam panjang dalam cumbuan tasbihku…


(Karanganyar, 28 April 2009)


17 Juli 2009

SYAIR PELATARAN BISING


Kami hadir hanya untuk menyanyi tuan
di pelataran bising inilah rumah kami

dendangkan kata-kata yang kami punya

karna adalah kami ini

kawan debu jalanan,...panas terik dinginnya hujan


Bila kau tanya, nyanyian kami hanya terbeli murah tuan

tak perlu sampai puluhan ribu

cukuplah senyum kericik-kericik logam itu

tangan kecil berpasrah padamu


T
olonglah kami tuan

belilah sedikit syair kehidupan kami ini

tak perlu sampai puluhan ribu

tak perlu berlembar-lembar biru

cukup senyuman rindu

lembut sapa seorang ibu

berilah itu untuk kami

di perjalanan bising ini memintamu


Kami bukan preman, bukan pula musuh yang membahayakan

Cuma lengkung nasib membawa manusia ini kepinggir

dalam diri garis takdir ini mengukir

menindih tak terlawankan


Tolonglah kami tuan,

belilah sedikit syair sumbang ini

palingkan tulus wajahmu

pada kawannya debu jalanan,...panas terik dinginnya hujan

didepanmu dengan sepotong plastik, amplop, topi usang


Terima kasih tuan, kau kerling wajah ini…

( Solo, 30/04/09)

16 Juli 2009

KEMBALI KELANGIT?


lupakah pada langit?
geram ia melihat anak adam

tak lagi menatapkan mata kepadanya


lupakah pada langit?

menganggap langit tak lagi tinggi

sempurna hanyalah kepalanya


lupakah pada langit?

mata, telinga, mulut, dan hatinya kabur

ia telah lupa, betapa sejengkalnya ia


akankah hujan, air, dan tanah yang marah menjadi jalan?

membawa matanya kembali ke langit

memarkir hatinya kebumi

betapa ia tak lebih tinggi dari rambut diatas kepalanya

betapa ia hanya sebutir pasir

yang pasti hanyut ditelan air


atau ia akan mati?

sebagai langit yang tak pernah ia miliki...


(Bumi Karanganyar, 09/06/09)

SERATUS TAHUN LAGI




Kau lihat,
tebarannya mencari
memaksa tangan
rengkuh memeluk sunyi
dalam senyap meniduri


Jantung keluhkan asa
harap membelai hati
jangan jatuh, boleh runtuh
kobaran nyala membara
bakari sumsum bercinta mesra...


Sungguh!
tak usah tangismu
bulan tak akan pulang
pergi merantau mengejar damai
seratus tahun lagi!
senyuman itu bertandang
memandang matamu yang biru
seolah batu yang beku...


(JUMAPOLO-KARANGANYAR)

30 Juni 2009

MENUNDUKKAN DILEMA SBY-JK : DI KAKI MANA AKU BERDIRI ?

(Tulisan ini tidak bertendensi untuk menggoyahkan, tetapi lebih kepada mendudukan diri dalam perjuangan menundukkan sebuah dilema yang mau tidak mau harus diakui keberadaannya dalam komunitas ini)

Diskusi untuk menentukan dimana tangan kita harus ditempatkan dalam Pilpres ini bagi sebagian besar orang dalam komunitas kita mungkin sudah selesai. Pilihan sudah dijatuhkan, tinggal bagaimana dan apa upaya kita untuk memenangkan pilihan itu. Tangan kita telah menunjuk, berjabat erat dan diletakkan dalam ikatan politik koalisi SBY-Boediono. Dalam konteks ini berarti daya upaya kita sekarang adalah bagaimana mengamankan dan menggolkan jago yang kita usung. Apalagi prosesi pencontrengan tinggal menunggu hitungan jari.

Namun bagi sebagian kecil orang (wallahu a’lam berapa jumlah pastinya, angka kecil ini asumsi saya pribadi), termasuk saya, hal itu belumlah selesai atau setidak-tidaknya sedang dalam proses penyelesaian. Bagi saya pribadi pilihan kepada SBY pada awalnya tidak ada masalah, saya sangat apreciate kepada prestasi dan kharisma beliau. Waktu itu dukungan saya penuh kepada beliau sebagaimana bisa kita baca pada artikel-artikel saya sebelum ini (lengkapnya bisa dibaca : Memahami Antagonisme PKS dan Golkar, Menakar Kesungguhan Sikap Partai Golkar, dan Membaca Polarisasi Koalisi Parpol Menuju Kontestasi Pilpres). Tetapi masalah kemudian muncul, hal ini dimulai ketika ada polemik penentuan siapa cawapres yang akan digandeng SBY. Nama yang santer keluar dan menjadi kandidat terkuat kemudian teramat mengejutkan saya : Boediono. Sampai akhirnya muncul titik kepastian, SBY mengesahkan Boediono sebagai cawapresnya. Ini benar-benar mengecewakan saya (mungkin juga sebagian kecil orang sebagaimana saya sebut diatas). Apalagi diawal sudah begitu masif dihembuskan gerakan penolakan terhadap neoliberalisme dan konotasi neoliberalisme ini tidak lain adalah salah satunya Boediono. Dan saya adalah bagian dalam gerakan itu.

Bagi saya pilihan bersama Boediono ini begitu menggoncang, betapa saya harus menjilat ludah saya sendiri. Ibarat berteman dan menjadi pengawal orang yang saya identifikasi sebagai musuh dan hendak saya perangi. Mencintai dan menjadikan isteri orang yang pernah saya tolak mentah-mentah dan saya anggap setan. Jujur untuk itu saya berkelahi dengan hati nurani selama berpekan-pekan ini. Apalagi setelah melihat iklan-iklan calon lain dan beberapa fakta yang terungkap (lebih mudah search saja di internet atau ikuti pemberitaan di media terutama TV), juga sebuah iklan SBY-Boediono yang menurut saya sarat pembohongan (iklan SBY-Boediono dengan guru, petani, dll). Simpati saya kepada SBY perlahan-lahan pudar dan beralih kepada JK-Wiranto. Lengkap sudah dilema ini.

Tetapi saya juga sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa, terlepas dari back ground independensi gerakan mahasiswa, saya adalah kader sebuah partai yang telah men-declare-kan diri dalam barisan koalisi SBY-Boediono. Konskuensi dari keberadaan diri saya sebagai kader partai ini adalah ketaatan kepada kebijakan partai. Mengingat bahwa dalam partai ini sudah ada mekanisme pengambilan keputusan yang legitimate dan konstitusional yakni lewat majelis syuro, maka keputusan yang kemudian menjadi garis kebijakan partai harus di dukung, di ikuti dan dipatuhi oleh para kadernya kecuali ia ingin menjadi pembangkang. Apalagi pengajaran ini sudah sampai dan sudah sangat dipahami : ”keputusan dari hasil syuro lebih baik dari pada keputusan pribadi yang paling baik sekalipun”, juga ”tidak ada pendapat pribadi setelah syuro memutuskan”.

Kesadaran ini yang membawa keputusan pada dilema saya. Karena pilihan harus dijatuhkan maka saya memilih untuk menjadi kader yang taat, mengikuti garis kebijakan partai untuk bersatu didalam barisan SBY-Boediono. Meski tidak dapat saya pungkiri simpati saya kepada JK-Wiranto sangat besar bahkan mengalahkan simpati saya kepada SBY-Boediono yang sekarang sangat minimalis. Tentunya kita sepakat bahwa keberhasilan dan prestasi SBY dan JK itu adalah suatu hal yang debatable dan berbagai informasi dapat kita konsumsi untuk mengkonfirmasi, mengklarifikasi sekaligus mengkonfrontirnya.

Akhirnya karena simpati ini adalah pekerjaan hati, ijinkan saya meminta pengertian untuk tetap menyimpannya. Dengan kata lain : meski tangan dan kaki saya untuk SBY-Boediono tapi biarkanlah simpati saya bersama JK-Wiranto sampai Allah mengubahnya lagi . Wallahu a’lam bishowab.

(JUMAPOLO-KARANGANYAR)